Rata-rata/malam €142 Okupansi 74 % Skor rata-rata 8,7 +0,2 Panduan baru Mingguan
Panduan

Hotel Merah Putih Surabaya: Arti, Sejarah & SPBU Bikers

Frasa “Hotel Merah Putih Surabaya” menyimpan makna ganda yang jarang disadari banyak orang. Di satu sisi, istilah ini merujuk pada sebutan populer di kalangan bikers terhadap SPBU Pertamina yang menyediakan tempat istirahat nyaman. Di sisi lain, nama tersebut secara historis dikaitkan dengan perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato—kini Hotel Majapahit—pada 19 September 1945, sebuah momen penting yang memicu Pertempuran Surabaya. Artikel ini akan mengupas kedua konteks tersebut dengan merujuk pada sumber resmi pemerintah kota dan referensi sejarah terpercaya.

Last checked: 2026-06-06

Apa itu Hotel Merah Putih: Julukan untuk SPBU Pertamina yang menjadi tempat nongkrong favorit bikers di Surabaya · Lokasi: Surabaya, Indonesia (dekat Rungkut) · Hotel terdekat: favehotel Rungkut Surabaya (499 m, rating 8.4) · Referensi historis terkait: Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan 65, lokasi insiden perobekan bendera 1945

Bagaimana kami meneliti ini

Terakhir ditinjau: Maret 2025.

Sumber yang ditinjau: Situs resmi pemerintah kota Surabaya (disbudporapar), portal sejarah pemerintah, platform ulasan properti, dan dokumenter sejarah.

Keterbatasan transparan: Kami tidak melakukan kunjungan langsung ke lokasi SPBU maupun hotel, dan tidak melakukan wawancara dengan pengelola.

Fakta Kunci tentang “Hotel Merah Putih Surabaya”

1 Definisi Istilah
  • “Hotel Merah Putih” adalah julukan populer untuk SPBU Pertamina yang menjadi titik nongkrong favorit bikers di Surabaya (Disbudporapar Kota Surabaya)
2 Referensi Historis
  • Istilah ini juga merujuk pada insiden perobekan bendera di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) pada 19 September 1945 (Disbudporapar Kota Surabaya)
3 Lokasi Sekarang
  • Hotel Majapahit terletak di Jalan Tunjungan 65 Surabaya, dibangun pada 1 Juni 1910 oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara (Disbudporapar Kota Surabaya)
4 Peristiwa Kunci
  • Perobekan bagian biru bendera Belanda di atap hotel menyisakan warna merah putih sebagai bendera Republik Indonesia (Disbudporapar Kota Surabaya)
Label Value
Apa itu Hotel Merah Putih Julukan untuk SPBU Pertamina yang menjadi tempat nongkrong favorit bikers di Surabaya
Lokasi Surabaya, Indonesia (dekat Rungkut)
Hotel terdekat favehotel Rungkut Surabaya (499 m, rating 8.4)
Referensi historis terkait Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan 65, lokasi insiden perobekan bendera 1945

Apa yang dimaksud dengan hotel merah putih?

Istilah “Hotel Merah Putih Surabaya” memiliki dua makna yang saling berbeda namun sama-sama terkait dengan kota Surabaya. Pemahaman terhadap kedua konteks ini penting untuk menghindari kekeliruan interpretasi yang sering terjadi di kalangan masyarakat dan bahkan di hasil pencarian online.

Makna sebagai SPBU Pertamina untuk bikers

Dalam konteks contemporary, “Hotel Merah Putih” digunakan sebagai julukan tidak resmi untuk salah satu SPBU Pertamina di Surabaya yang populer di kalangan bikers atau pecinta kendaraan bermotor. Istilah ini muncul karena beberapa SPBU Pertamina menawarkan fasilitas yang membuat pengguna merasa seperti “menginap” di sana—termasuk area istirahat yang bersih, ketersediaan kamar mandi, dan suasana yang aman untuk beristirahat sejenak dari perjalanan jauh.

Konsep “menginap di SPBU” ini sebenarnya bukan hal baru di kalangan bikers Indonesia. Beberapa lokasi SPBU di sepanjang jalur transportasi utama sering dijadikan tempat persinggahan overnight bagi pemudik atau touring rider. Jarak dari SPBU yang dijuluki “Hotel Merah Putih” ke pusat kota Surabaya sekitar 5 km dari Tunjungan Plaza, menjadikannya strategis bagi bikers yang bepergian dari atau ke arah timur Surabaya.

Referensi historis: Hotel Yamato

Secara historis, istilah “Hotel Merah Putih” erat kaitannya dengan insiden perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato pada September 1945. Hotel ini awalnya dikenal sebagai Hotel Oranje pada era kolonial Belanda, kemudian berganti nama menjadi Hotel Yamato selama masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya bernama Hotel Majapahit setelah kemerdekaan Indonesia.

Secara formal dalam dokumen cagar budaya dan promosi resmi, nama yang digunakan adalah “Hotel Majapahit” atau “Hotel Majapahit Surabaya,” bukan “Hotel Merah Putih.” Istilah “Hotel Merah Putih” lebih bersifat julukan populer yang merujuk pada peristiwa bendera yang menjadi simbol perlawanan nasional.

“Hotel Majapahit adalah sebuah hotel mewah yang mempunyai nilai sejarah yang dibangun pada tanggal 1 Juni 1910 di Jl. Tunjungan 65 Surabaya oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara.”

The bottom line: “Hotel Majapahit adalah sebuah hotel mewah yang mempunyai nilai sejarah yang dibangun pada tanggal 1 Juni 1910 di Jl. Tunjungan 65 Surabaya oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara.”
— Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya
Catatan Penting: Tidak ada hotel komersial bernama resmi “Hotel Merah Putih” yang terdaftar di Surabaya. Istilah ini murni bersifat julukan—baik untuk SPBU bikers maupun sebagai referensi historis terhadap peristiwa 1945.

SPBU Pertamina Jadi “Hotel Merah Putih”, Tempat Favorit Para Bikers

Mengapa disebut hotel?

Fenomena julukan “Hotel” untuk SPBU tertentu muncul dari kebutuhan praktis komunitas bikers. Dalam budaya touring Indonesia, perjalanan jarak jauh memerlukan tempat istirahat yang layak. SPBU yang memiliki fasilitas tambahan—seperti area duduk terlindungi, toilet bersih, pencahayaan memadai, dan keamanan—secara alami menjadi pilihan utama.

Istilah “Hotel Merah Putih” kemungkinan terinspirasi dari warna khas Pertamina yang identik dengan merah dan putih, memperkuat identitas lokal sekaligus memberikan kesan humor terhadap konsep “menginap” di fasilitas umum.

Fasilitas yang ditawarkan

Berdasarkan pola yang umum ditemukan di SPBU yang dijuluki “Hotel Merah Putih,” beberapa fasilitas standar biasanya meliputi area parkir luas yang memungkinkan kendaraan besar seperti mobil dan motor untuk bermanuver dengan nyaman, toilet dengan air bersih dan sanitize yang memadai, mushola atau ruang ibadah untuk sholat, minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok, dan seringkali kedai kopi atau warung sederhana.

Tips untuk Bikers: Jika mencari SPBUbernama “Hotel Merah Putih” di Surabaya, perhatikan lokasi di sekitar area Rungkut yang merupakan jalur favorit bikers. Namun perlu diingat bahwa istilah ini tidak resmi—tanyakan langsung di komunitas bikers lokal untuk rekomendasi akurat.

Pertempuran Surabaya 1945: dari Insiden Hotel Yamato hingga Hari Pahlawan

Peristiwa perobekan bendera

Kronologi insiden perobekan bendera di Hotel Yamato bermula pada 18 September 1945, ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Ploegman menaiki atap Hotel Oranje dan mengibarkan bendera merah-putih-biru Belanda di tiang bendera di atap sisi kanan hotel. Tindakan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pada keesokan harinya, 19 September 1945, para pejuang Indonesia memanjat menara bendera Hotel Oranje/Yamato dan merobek bagian biru bendera Belanda. Hasilnya, hanya tersisa warna merah dan putih yang kemudian dikibarkan sebagai bendera Republik Indonesia. Insiden ini berujung pada tewasnya Mr. Ploegman dan menjadi pemicu eskalasi ketegangan di Surabaya.

“Pada tanggal 19 September 1945 mengetahui hal itu, Para pejuang Indonesia melakukan perobekan warna biru pada bendera Belanda … dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Republik Indonesia.”

— Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya

Siapa yang merobek bendera?

Beberapa sumber sejarah menyebut dua pemuda Indonesia bernama Kusno Wibowo dan Hariyono sebagai tokoh yang naik ke atap Hotel Yamato dan merobek bagian biru bendera Belanda pada 19 September 1945. Namun perlu dicatat bahwa ada beberapa variasi nama dalam sumber yang berbeda, yang menunjukkan perlunya verifikasi lebih lanjut terhadap arsip primer dari masa tersebut.

Yang lebih terdokumentasi dengan jelas adalah sosok Mr. Ploegman yang memimpin kelompok Belanda yang mengibarkan bendera merah-putih-biru dan kemudian tewas dalam insiden tersebut.

Hubungan dengan Pertempuran Surabaya

Dinas Kebudayaan Kota Surabaya menegaskan bahwa insiden perobekan bendera di Hotel Oranje/Majapahit menjadi salah satu pemicu penting rangkaian perlawanan di Surabaya pasca-proklamasi. Peristiwa ini berpangkal pada gerakan pengibaran bendera merah putih menggantikan bendera Hinomaru Jepang di kantor-kantor dan perusahaan sejak awal September 1945.

Peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato/Majapahit pada 19 September 1945 sering ditulis sebagai salah satu titik awal eskalasi menuju Pertempuran Surabaya yang memuncak pada 10 November 1945. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang keberanian rakyat Surabaya melawan serangan Sekutu.

Rangkuman: Insiden Hotel Yamato bukan sekadar peristiwa bendera—ini adalah simbol bagaimana identitas nasional dikonkretkan melalui aksi simbolis yang kemudian menjadi pemantik perlawanan bersenjata terbesar di masa transisi menuju kemerdekaan.

Hotel di Surabaya yang Menjadi Lokasi Penyerangan Bekas Tentara KNIL adalah?

Hotel Majapahit (dulu Hotel Yamato)

Jawaban atas pertanyaan ini adalah Hotel Majapahit, yang dulunya dikenal sebagai Hotel Oranje pada era kolonial dan Hotel Yamato selama pendudukan Jepang. Bangunan bersejarah ini terletak di Jalan Tunjungan 65, Surabaya, dan kini menjadi salah satu landmark kota yang dilindungi sebagai cagar budaya.

Hotel Majapahit dibangun sebagai hotel mewah bernilai sejarah pada 1 Juni 1910 di Jalan Tunjungan 65 Surabaya oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara, dengan arsitek James Afprey dari Inggris. Dalam inskripsi di bangunan induk Hotel Majapahit tertulis dalam bahasa Belanda bahwa batu pertama diletakkan oleh Eugene Lucas Sarkies pada tanggal tersebut.

Latar belakang penyerangan KNIL

KNIL adalah singkatan dari Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan, eks-Tentara KNIL yang tersisa di Surabaya melakukan beberapa aksi provokatif, termasuk pengibaran bendera Belanda di atap Hotel Yamato yang memicu insiden 18-19 September 1945.

Sejak 1936, tampak depan Hotel Oranje diubah dengan penambahan lobi dan perobohan menara kembar—termasuk menara bendera yang kemudian menjadi lokasi insiden perobekan bendera. Perubahan arsitektur ini secara tidak langsung menyiapkan “panggung” bagi peristiwa bersejarah yang akan datang.

Fakta Arsitektur: Menara kembar Hotel Oranje yang dirobohkan pada 1936 sebenarnya menyembunyikan tiang bendera yang akan menjadi lokasi pengibaran dan perobekan bendera pada September 1945. Detail ini penting untuk memahami mengapa lokasi ini begitu simbolis.
Rangkuman: Hotel Majapahit telah bertransformasi dari simbol kolonialisme (Hotel Oranje/Yamato) menjadi simbol perlawanan nasional. Transformasi ini tercermin dalam narasi resmi pemerintah kota yang memosisikan hotel sebagai destinasi wisata sejarah, bukan sekadar akomodasi mewah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah hotel merah putih adalah hotel sungguhan?

Secara resmi, tidak ada hotel bernama “Hotel Merah Putih” di Surabaya. Istilah ini merupakan julukan tidak resmi yang digunakan untuk dua konteks berbeda: SPBU Pertamina yang populer di kalangan bikers, dan secara historis merujuk pada insiden perobekan bendera di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit).

Di mana lokasi SPBU Hotel Merah Putih di Surabaya?

Istilah “Hotel Merah Putih” untuk SPBU populer di kalangan bikers berada di sekitar area Rungkut, Surabaya. Lokasi ini strategis karena berjarak sekitar 5 km dari pusat kota dan menjadi titik persinggahan favorit bagi pemudik dan touring rider. Namun karena istilah ini tidak resmi, nama pasti SPBU perlu dikonfirmasi langsung di komunitas bikers lokal.

Apa yang terjadi di Hotel Yamato pada 1945?

Pada 18 September 1945, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera merah-putih-biru di atap Hotel Yamato. Keesokan harinya, 19 September 1945, para pejuang Indonesia merobek bagian biru bendera tersebut, menyisakan merah dan putih sebagai bendera Republik Indonesia. Insiden ini menjadi pemicu Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Siapa yang merobek bendera di Hotel Yamato?

Beberapa sumber menyebut Kusno Wibowo dan Hariyono sebagai dua pemuda yang memanjat atap Hotel Yamato dan merobek bagian biru bendera Belanda pada 19 September 1945. Namun ada variasi nama dalam sumber yang berbeda, sehingga diperlukan verifikasi lebih lanjut terhadap arsip primer dari masa tersebut.

Related reading: Hotel Nikko Jakarta Kini Jadi Pullman: Sejarah dan Pemilik ? Life Hotel Sudirman Surabaya: Telepon, Lokasi, & Review

The bottom line: Related reading: Hotel Nikko Jakarta Kini Jadi Pullman: Sejarah dan Pemilik ? Life Hotel Sudirman Surabaya: Telepon, Lokasi, & Review